Minggu, 13 Desember 2015

42. Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?

Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?

Di Indonesia, dikenal ada 3 tingkatan sarjana:
  • S1: sarjana
  • S2: magister, master,
  • S3: Doktor
Semua tingkatan harus ditempuh dengan studi. Sewaktu S1 di Bandung, Indonesia, aku harus mengikuti kuliah beserta ujian dan tugas-tugasnya, praktikum di laboratorium, kerja praktek di perusahaan, dan diakhiri dengan tugas akhir. Kebetulan aku kuliah di tempat yang benar mendidik orang menjadi Sarjana Teknik Elektro. Kebetulan lagi aku betul-betul membuat hardware ketika kerja praktek di industri, bukan sekedar merangkum manual alat seperti beberapa mahasiswa lain. Aku juga merasakan tugas akhir yang berurusan dengan bidangku, yaitu Control Engineering (Teknik Kendali). Dalam tugas akhir ini, aku meneliti secara mandiri. Konsultasi dengan dosen, aku cuma dapat teori umum, bukan praksis memakai alat. Teman diskusi tidak ada. Aku juga menurunkan rumus sendiri untuk setengah dari pekerjaanku dalam tugas akhir ini. Selain itu, aku tidak bisa menulis tugas akhir dengan baik dan benar, terutama bagian menulis referensi. Oleh karena itu, tugas akhirku ini tak kuunggah di internet. Akhirnya aku lulus. Kuhitung lama studiku, 5 tahun. Cum Laude tak kudapat melainkan kemelut (quote: Dhita Yudistira, seniroku dan mantan Ketua HME ITB).

Setelah S1, kuberencana lanjut studi S2. Kumimpikan di Jerman. Ternyata tidak mulus perjalanannya. Untuk mengejar impian ini, aku ikut kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung. Aku juga merasakan bekerja menjadi pengajar di SMA swasta di Bandung selama kira-kira 2 tahun. Kemudian menjadi pengajar di perguruan tinggi swasta di Semarang. Di Semarang, aku mengajar 1 tahun. Ternyata aku merasakan 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan.

Suatu kebetulan terjadi. Lamaran beasiswaku kepada DAAD Jakarta dilirik. Aku dipanggil untuk wawancara. Aku datang dan diwawancara oleh 1 Profesor Jerman, 2 Doktor Indonesia lulusan Jerman, dan 1 orang pegawai DAAD. Profesor Jerman bertanya mengenai tugas akhir S1. Doktor Indonesia bertanya mengenai apa manfaat buat negara Indonesia kalau aku studi dengan beasiswa ini. Pegawai DAAD bertanya persiapan apa saja yang telah kulakukan untuk studi ke Jerman. Sebulan kemudian, di kala harus berteduh karena hujan deras, telponku berdering. Penelpon bertanya padaku, apakah aku mau menerima beasiswa DAAD. Aku jawab, ya.

Setelah mengikuti permainan tarik-ulur layang-layang dan ping pong di tempat kerjaku di Semarang :-), aku bisa lanjut studi S2 di Jerman. Dalam mengambil master di bidang otomasi di Bremen, aku harus mengikuti kuliah beserta ujiannya, praktikum di laboratorium, mengerjakan penelitian kecil (Project) dan penelitian besar (Thesis). Kecil dan besar berbeda hanya dalam jumlah kredit. Keduanya sama-sama sulit buatku. Penelitiannya dilakukan secara mandiri. Dan kemandirian ini membutuhkan disiplin tinggi dalam manajemen waktu dan memilah-milah paper. Ini yang berat buatku. Aku sudah lelah oleh ujian di Bremen. Ujiannya cuma boleh diulang satu atau dua kali jika tidak lulus (tergantung mata kuliah). Itu aturan Jerman. Kalau mengulang ujian dan tak lulus, itu artinya drop out. Dalam lelah ini, aku salah memilih topik karena pengen cepat lulus. Kemudian aku harus mengulang topik dari awal lagi. Ingin cepat, ternyata aku malah salah jalan.  Mengulang topiknya pun tanpa perlindungan beasiswa DAAD. Aku bekerja jadi buruh di gudang dan pabrik untuk membiayai sisa studiku. Akhirnya aku lulus master. Kuhitung aku studi 4,5 tahun hanya untuk gelar master.
***
Oh, ya, sesuai judul topik ini. Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?
Aku merenung, aku sudah menghabiskan 5 tahun S1, 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan, 4,5 tahun S2. Totalnya, aku mendedikasikan hidupku 12,5 tahun untuk dunia pendidikan. Studi S3 bakal menambah masa hidupku di dunia ini lagi.
Aku sudah penat dengan kuliah dan dengan dunia pendidikan. Walau dalam diriku masih tersisa keinginan untuk mengajar. Tapi aku butuh suatu rehat untuk kesehatan jiwaku.

Studi S3 atau doktoral juga berarti suatu penelitian mandiri. Aku sudah dua kali gagal dalam penelitian mandiri. Sewaktu S1 di Bandung, kerja praktek dan tugas akhir memperpanjang lama studiku. Sewaktu S2 di Bremen, project dan thesis juga membuat kelulusanku lambat. Aku butuh suatu istirahat dari dunia penelitian di lembaga pendidikan tinggi.

Oh, ya, status dosenku juga hilang ketika aku sedang menjalani studi master di Bremen. Aku mendapat email di hari ulang tahunku, tepat ketika aku bangun pagi hari dan membuka komputer. Untuk menambah rasa ini, sorenya, cintaku kandas via telpon. Di saat aku stress karena salah memilih topik project di Bremen, aku mendapat dua hadiah ulang tahun ini. Hal ini sempat membuatku mengobrol dengan jeruk.

Tiga dosenku di Bandung berkata tentang studi doktoral atau S3. Studi ini hanya cocok untuk dosen dan mereka yang hidup di dunia penelitian, kata Pak Eniman Syamsudin. Beliau mengajarku Sistem Kendali, suatu mata kuliah yang membentuk identitasku sebagai seorang Control Engineer. Selain itu, Beliau mendidikku menjadi orang jujur dan berintegritas. Dosen kedua, Pak Armein Langi menulis tentang beda S1, S2, dan S3. Menurutnya pendidikan S3 itu untuk menghasilkan peneliti. Pendidikan ini hanya cocok untuk orang yang punya keinginan menghasilkan dan MENULIS pengetahuan baru. Beliau ini dulu memberi kuliah Pengolahan Sinyal Digital yang sempat kuhadiri sekali. Terakhir, Pak Budi Rahardjo membuatku merenung tentang perlu-tidaknya mengambil studi S3. Studi S3 hanya membuang waktu kalau tidak punya "passion" atau gairah dalam penelitian. Selain itu, Beliau juga berkata kalau ingin S3, pilihlah tempat yang memiliki promotor (pembimbing), infrastruktur dan lingkungan yang mendukung. Infrastruktur itu maksudnya fasilitas (alat, laboratorium, perpustakaan, akses jurnal, dll). Lingkungan maksudnya teman diskusi dan "network". Penelitian berkembang dalam jejaring peneliti. Komunitas peneliti biasanya mengadakan konferensi atau seminar serta menerbitkan jurnal penelitian.

Aku menyadari bahwa teman diskusi itu penting dalam dunia penelitian. Dulu di Bandung, aku bisa dapat hal-hal berguna dalam penelitian ketika aku berdiskusi dengan kawan-kawan, terutama Eka Suwartadi. Di Semarang, tiba-tiba aku sulit bergerak karena tiadanya rekan diskusi. Di Bremen, ada beberapa mahasiswa doktoral asal Indonesia yang senang mengajak diskusi. Karena diskusi inilah, ide-ide penelitian bermunculan serta paper ilmiah karangan mereka bisa tajam karena diasah oleh kritik. Kawan diskusi lokal juga berguna buat makan-makan bareng dan nyanyi bareng. Tentu saja makan bareng mereka diselingi obrolan bermutu yang bisa mengisi jiwaku. Mereka juga membuatku untuk masih memiliki keinginan untuk lanjut doktoral.
***
Akhirnya kupilih tak lanjut studi doktoral. Aku ingin membuka mataku untuk dunia lain di luar dunia pendidikan. Aku juga terlalu lelah untuk studi lagi. Mentalku belum siap untuk penelitian mandiri. Apakah aku tidak suka dunia penelitian? Tidak! Saat ini, aku bekerja di bagian penelitian dan pengembangan pada perusahaan komponen kendaraan bermotor. Ternyata aku tidak jauh-jauh dari dunia penelitian. Beberapa rekan kerjaku di sini juga ada yang bergelar Doktor. Saat ini, aku tak sudi lanjut S3 tapi entah apa yang terjadi 5 tahun lagi.

4 comments:

  1. Saya tidak yakin kalo S3 hanya untuk para dosen saja? Kalo kita membuka mata dan berkaca banyak industri di luar negeri memiliki karyawan dengan kualifikasi S3.
    Reply
  2. Saya kerja di perusahaan. Beberapa rekan kerja adalah lulus S3. Yang dibutuhkan dari lulusan S3 adalah kemampuan meneliti. Kami bekerja di gedung litbang.
    Reply
  3. mau tanya dong min... kalau lulusan S1 Management di terusin S2 nya apa yang... makasih.
    Reply
    Replies
    1. Bisa pilih jurusan S2 manajemen atau jurusan BWL (Betriebswirtschaftslehre).
      Kalau memilih jurusan manajemen di Jerman, ada yang bayar uang kuliah dan ada yang tidak bayar.
      Kalau jurusan BWL biasanya tidak bayar uang kuliah, namun cukup uang administratif tiap semester, sekitar 300 EUR.
      Kalau ada uang kuliah, nambah lagi antara 500 s.d. 2000 EUR per semester.

41. Kisah Kawan-Kawan Yang Drop Out dari Kampus Paling Bergengsi di Dunia


Kisah Kawan-Kawan Yang Drop Out dari Kampus Paling Bergengsi di Dunia


Menyambut Daniel Maren kawan di Stanford University saat berada di Jakarta.
Kemarin pagi saya mendapatkan email dari salah satu kawan lama saya bernama Daniel Maren. Dia adalah mahasiswa Stanford University, USA.
Dia memberitahu kalau akan berkunjung ke Jakarta dan akan sampai pada siang harinya dari Singapore, akhirnya sore kemarin kami bertemu.
Pertemuan saya dengan dia sebelum kami saling kenal sungguh unik, kami bertemu saat makan malam di salah satu kantin di kampus Stanford University. Kebetulan dia duduk disebelah saya bersama John Backus dan ternyata dia juga kawan baik dari teman sekamar saya. Sejak saat itu kami berteman dan bersama kawannya yang lain sering datang kekamar saya dan berdiskusi banyak hal.

Saya kaget, ternyata dia sudah tidak lagi kuliah di Stanford University, dia memutuskan untuk Drop Out dari salah satu kampus terbaik di dunia tersebut. Yang lebih bikin kaget adalah beberapa kawan satu asrama saya yang hampir setiap malam datang kekamar saya menemani berdiskusi juga memutuskan untuk Drop Out (DO). Mereka semua memutuskan untuk DO dari kuliah S1-nya dan mereka DO selang 4 bulan setelah pertemuan kami pada 2013 lalu.
Saya heran mendengar kabar tersebut, padahal masuk ke Stanford University adalah dambaan setiap calon mahasiswa dari seluruh dunia, Stanford adalah salah satu kampus terbaik di planet ini dimana Google, Apple dan banyak perusahaan teknologi terbaik di jagad ini lahir dari kampus itu.

Bersama kawan sekamar saat di Stanford University. Dikamar inilah kami semua mendiskusikan banyak hal tentang inovasi dan teknologi, beberapa dari mereka kini Drop Out dan sukses menjadi entrepreneur :)
Lalu apa yang membuat mereka berani mengambil keputusan tersebut?
Daniel Maren, dia DO karena ingin fokus menjalankan perusahaan barunya yang bergerak di bidang Solar Power Electronic. Dia fokus mengembangkan inovasi berupa sebuah alat yang dapat membantu menghemat dan memberikan efisiensi pada perangkat photovoltaic berskala besar. Alat ini biasanya digunakan pada instalasi solar panel.
Hasilnya ?
Kurang dari satu tahun sejak dia mengembangkan perusahaannya tersebut, perusahaan startupnya yang bernama Dragonfly Systems diakuisisi oleh SunPower, salah satu perusahaan solar panel terbesar di dunia. Nilai akuisisinya sendiri bernilai puluhan juta dollar.
http://www.greentechmedia.com/articles/read/SunPower-Acquires-Dfly-Systems-a-Solar-Power-Electronics-Startup
Kini kawan saya tersebut masuk dalam daftar Top 30 under 30 oleh Forbes Magazine, yaitu daftar 30 orang yang umurnya dibawah 30 tahun dimana karyanya telah diakui dunia dan menjadi entrepreneur sukses di usia sangat muda.

http://news.stanford.edu/thedish/2014/01/17/undergraduate-trio-makes-30-under-30-list-for-energy-innovation/
http://www.forbes.com/pictures/mef45edded/daniel-maren-20-andrew-ponec-20-darren-hau-20/
Satu lagi bernama John Backus, kawan saya yang satu ini sukses menjalankan perusahaan startupnya bernama Blackscore, sebuah perusahaan startup yang fokus pada layanan security untuk payment.
Startupnya tersebut masuk di salah satu program incubator paling bergengsi didunia bernama Y-Combinator dan telah menerima pendanaan jutaan dollar dari berbagai Venture Capital terkemuka.
http://techcrunch.com/2014/06/26/blockscore-lands-2m-in-funding-for-making-i-d-verification-easier/
Kisah kawan-kawan saya yang DO dari Stanford ini juga dimuat di BusinessInsider > http://www.businessinsider.com/r-special-report-at-stanford-venture-capital-reaches-into-the-dorm–2014-12?IR=T&
Mendengar cerita dari kawan saya Daniel Maren yang sedang berkunjung ke Jakarta ini saya begitu senang dan bersemangat.
Semalam suntuk dari sore hingga tengah malam kami berdiskusi banyak hal, kami berdiskusi mengenai peluang-peluang kedepan dan tantangannya. Kami berencana untuk bisa berkolaborasi kedepannya, hal ini didasari atas dasar visi kami yang sama yaitu ingin membantu memecahkan masalah terbesar umat manusia.
Kebetulan saya sendiri juga sudah lama memikirkan akan peluang untuk memasuki bisnis di bidang renewable energy. Saya merencanakan untuk memasuki bisnis ini dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.
Kawan-kawan saya yang DO dan berani mengambil resiko tinggi ini telah membuktikan kalau mereka berhasil dengan keyakinannya itu.
Saya mendoakan agar mereka bisa seperti Steve Jobs, kakak angkatan jauh mereka yang juga Drop Out dari kampus Stanford University dan berhasil membangun salah satu perusahaan paling inovatif di dunia bernama Apple. Saya yakin mereka akan membuktikannya!
Dari perkenalan ini saya mengambil kesimpulan kalau ternyata tidak ada yang kebetulan dalam semua proses ini, saya sangat yakin Tuhan lah yang telah mengaturnya sedemikian rupa, selaras dengan mimpi dan tujuan hidup saya untuk bisa berguna bagi banyak orang nantinya.
PS:
Artikel ini bukan mengajak anda yang masih kuliah untuk ramai-ramai mengikuti mereka DO, namun ingin menunjukan bahwa keberanian mereka mengambil keputusan, mengelola resiko dan fokus di usia mereka yang masih sangat muda patut kita acungi jempol. Saya sendiri walaupun sudah menjalankan perusahaan tetap saya usahakan untuk bisa menyelesaikan kuliah S1 saya. Semoga 2016 nanti saya bisa wisuda :)

Selasa, 11 Agustus 2015

39. Apa Menariknya Punya Gelar Doktor?

Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada saya, maka jawabannya sederhana saja: memenuhi harapan bapak. Dulu bapak saya pernah mengatakan,”Kalau serius mau jadi dosen, ya harus sekolah sampai doktor”. Apa alasan persisnya, bapakpun mungkin juga tidak tahu. Tiap orang punya jawaban yang berbeda. Spektrumnyapun bisa bervariasi, dari jawaban yang iseng sampai yang sangat serius dan ilmiah. Meskipun mungkin menarik untuk membahas jawaban-jawaban tersebut, tapi Bab ini tidak akan membicarakan tentang hal itu. Bab ini justru akan mengupas tentang hal-hal yang “berat” dari gelar doktor. Maksudnya bukan untuk mengecilkan semangat bagi mereka yang akan berusaha meraihnya, tapi lebih pada meletakkan gelar tersebut pada posisi dan peran yang sesuai, agar siapapun yang memiliki gelar ini bisa memberikan kontribusinya secara maksimal.
Saat ini gelar doktor memang sedang menjadi primadona. Sesuatu yang sexy, kata orang, sehingga banyak diburu. Siapa saja yang gencar memburu gelar ini? Mengapa mereka melakukannya?

Pemburu gelar doktor yang paling antusias tentu saja adalah orang-orang yang bekerja di dunia akademik dan riset. Bagi para dosen di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga-lembaga riset, gelar doktor adalah tujuan formal yang paling tinggi dalam jenjang pendidikan akademik yang mungkin mereka tempuh. Bagi para insan akademik, derajad doktor tidak hanya dilihat sebagai atribut yang bersifat eksternal (seperti sebutan “haji” misalnya), tetapi lebih merupakan tuntutan yang melekat pada profesi pendidik itu sendiri. Tidak ada dosen yang tidak ingin meraih gelar doktor, karena pencapaian itu merupakan bagian dari tugas pekerjaan sebagai dosen. Apalagi perguruan tinggi sendiri menawarkan jenjang ini sebagai salah satu core businessnya (seperti disebutkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999).
Selain itu, pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menetapkan bahwa yang berhak mengajar pada program magister (S2) dan doktor (S3) adalah mereka yang memiliki gelar S3. Syarat formal ini membuat para dosen di perguruan tinggi yang memiliki program S2 dan S3 semakin berkeinginan untuk meraih gelar akademik tertinggi ini.
Selain itu, diakui atau tidak, di lingkungan kampus atau lembaga riset masih ada budaya tak tertulis tentang perbedaan perlakuan atau pandangan berdasarkan status akademik. Pemegang gelar S3 mendapatkan hak atau privilege dalam berbagai bentuk, yang tidak bisa dinikmati oleh mereka yang “hanya” memiliki gelar S2 atau S1. Contohnya, akhir-akhir ini mulai muncul beberapa iklan di media massa untuk mencari kandidat pejabat perguruan tinggi (dekan atau rektor). Dalam persyaratannya hampir semua mencari calon yang bergelar doktor. Di tempat kerja saya, bahkan syarat untuk menjadi ketua jurusanpun salah satunya adalah memiliki gelar S3. Apakah benar seorang doktor selalu lebih mumpuni dalam hal pengelolaan institusi pendidikan tinggi dibandingkan seorang master atau sarjana? Apakah persyaratan tersebut lebih bertujuan untuk menjaga image branding, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.
Pada tataran yang lebih informal, masih juga banyak dijumpai budaya “look who’s talking”. Kalau ada orang berpendapat, dilihat dulu siapa dia. Pendapat dari seorang doktor pada umumnya lebih diperhatikan daripada pendapat orang yang bukan doktor (kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang memang eksepsional). Wajarlah jika fenomena semacam ini juga memicu orang untuk meraih derajad akademik tertinggi ini.
Tentu saja banyak orang yang dimotivasi oleh karakteristik dari program doktor itu sendiri. Salah satu kriteria lulus doktor adalah penelitiannya memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Agar bisa memberikan kontribusi yang signifikan, riset S3 harus mengandung orisinalitas. Orisinalitas berarti berada di sisi paling depan dalam topik yang ditelitinya. Orang sering mengatakan bahwa seorang doktor adalah orang yang paling tahu/mengerti tentang topik risetnya. Perasaan “berada di ujung depan” ini sering menjadi motivasi internal yang dahsyat bagi seorang mahasiswa S3. Baginya, kondisi ini menjadi pendorong untuk senantiasa berkarya mengembangkan bidang ilmunya dengan melakukan riset-riset dan mempublikasikan hasilnya, tidak hanya selama ia belajar, tetapi bahkan setelah selesai studinya.
Ada juga yang bersemangat sekolah S3 karena tertarik dengan prosesnya. Belajar pada jenjang S3 tidak seperti belajar pada jenjang yang lebih rendah. Ada tuntutan untuk bisa mandiri dalam menjalankan risetnya, selain ketrampilan dalam mengeksplorasi unknown areas dan menemukan  hal-hal menarik yang bisa dikontribusikan. Bagi seorang yang punya jiwa ilmuwan, perjalanan intelektual ini sangat menantang karena dapat memberikan penghargaan yang sesuai dengan jiwanya: kepuasan batin karena bisa menemukan hal-hal baru yang bermanfaat.
Popularitas gelar doktor juga meningkat di kalangan non-akademik. Dalam beberapa tahun terakhir ini cukup banyak orang-orang yang dikenal berkarya di bidang non-akademik juga tertarik mendapatkan gelar doktor. Pejabat pemerintah, direksi BUMN, pebisnis, sampai ke politisi dan pengurus partai politik juga tertarik menceburkan diri dalam arus ini. Belum ada yang meneliti secara ilmiah tentang fenomena ini, tetapi analisis sederhana tentang penyebabnya adalah sifat masyarakat Indonesia yang gemar terhadap simbol-simbol sosial. Doktor adalah simbol kepandaian dan intelektualitas. Doktor juga sedikit banyak mencerminkan status ekonomi yang cukup tinggi, karena biaya pendidikannya cukup mahal. Singkat kata, doktor adalah merk (brand) yang bernilai tinggi. Dengan gelar ini, si pemegang berharap bisa mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi dari lingkungannya. Suka atau tidak, inilah kenyataan yang berkembang di sebagian masyarakat Indonesia.
Tapi apa yang sebenarnya diharapkan dari seorang doktor? Apakah benar doktor hanya berhenti sebatas status sosial saja? Mestinya tidak, karena nilai tinggi dari sebuah image selalu muncul dari substansi yang memang berkualitas.

Harapan Bagi Seorang Doktor

Tentang tanggung jawab moral bagi seseorang yang telah menyandang gelar doktor, saya jadi teringat film Spiderman. Dalam film ini, paman Ben mengatakan kepada Peter Parker,”With great power, comes great responsibility” (Sony Pictures, 2009). Ungkapan tersebut berlaku juga bagi seorang doktor, yang dengan gelar itu ia punya posisi terhormat. Sayangnya banyak yang lupa atau bahkan tidak memahami tentang tanggung jawab moral yang mengikutinya, sehingga kontribusi dan karyanya berhenti setelah gelar S3 diperoleh. Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa ketidaktahuan tentang hal ini kemudian berimplikasi pada proses studi yang tidak berjalan secara semestinya.
Ada oknum-oknum yang tergiur menempuh jalan pintas yang menyesatkan: tidak mau bersusah payah menempuh proses riset S3. Hukum ekonomipun berlaku: jika ada permintaan, maka ada penawaran. Muncullah kasus jual-beli ijazah. Perguruan-perguruan tinggi “papan nama” muncul dengan tawaran program doktor instan, hanya dengan “kuliah” sekian bulan dan membayar sekian Rupiah atau Dollar, ijazahpun bisa digenggam. Perlu dicatat bahwa beberapa perguruan-perguruan tinggi bodong semacam ini justru berlokasi di negara-negara maju.
Modus jalan pintas yang lain adalah dengan memanfaatkan biro-biro jasa pembuatan disertasi. Di kota-kota basis pendidikan di Indonesia banyak sekali usaha-usaha biro jasa semacam ini. Iklannya bertebaran di mana-mana, dari koran, Internet, sampai kertas lusuh yang di-laminating dan ditempel di pohon. Oknum yang bersangkutan bisa saja resmi terdaftar sebagai mahasiswa S3 di sebuah perguruan tinggi, tetapi dia mengabaikan tahapan-tahapan riset yang menjadi roh studi S3 itu sendiri. Dengan bantuan sebuah biro jasa, mulai pemilihan topik sampai dengan penulisan naskah disertasinya direkayasa sedemikian rupa sehingga kelihatan seolah-olah asli. Dia sibuk merekayasa proses, bukan menjalani prosesnya.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, seorang doktor berdiri di ujung horison perkembangan ilmu di bidangnya. Dia berada di tip of the edge, sehingga tugasnya setelah menyelesaikan studi doktoralnya adalah melanjutkan pengembangan ilmu di bidang tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah ia lakukan selama studi, ia mengeksplorasi daerah-daerah baru yang belum terjamah dengan riset-riset lanjutan. Hasilnya dikontribusikan dalam bentuk tulisan ilmiah atau aplikasi-aplikasi nyata, dan siklus ini berlanjut terus. Dengan cara inilah ilmu pengetahuan bisa berkembang, dan peran seorang doktor adalah menjadi ujung tombak dalam usaha ini.
Memang harus diakui bahwa peran di atas sangatlah ideal, dan banyak doktor di Indonesia tidak mampu menjalankannya karena berbagai sebab. Seorang doktor baru, terutama yang berasal dari luar negeri, biasanya memiliki semangat besar dalam menjalankan peran barunya itu. Sayangnya begitu pulang ke tempat kerjanya di Indonesia, lingkungannya tidak mampu mendukung harapan yang tinggi tersebut. Banyak yang kemudian menjadi frustrasi dan akhirnya mencari jalan keluar yang jauh dari cita-cita ideal tersebut.
Meskipun peran ideal jarang yang bisa dipenuhi secara konsisten, tetap saja seorang doktor adalah manusia yang dikaruniai intelektualitas tinggi. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia mestinya mampu mencari peluang di mana ia bisa berkontribusi melalui kapasitas intelektualnya yang tinggi tersebut. Di perguruan tinggi atau lembaga riset, ia tetap bisa berkarya, meskipun mungkin jenis risetnya tidak sama seperti saat ini bersekolah di luar negeri. Banyak problem nyata di masyarakat yang perlu dicari solusinya, dan beberapa persoalan memiliki kompleksitas yang tinggi sehingga memerlukan kapabilitas yang istimewa juga. Seorang doktor memiliki bekal dasar untuk menangani hal semacam ini, dan ini membuka peluang baginya untuk bisa berkontribusi menjalankan perannya.
Seorang doktor adalah orang yang terlatih dalam melakukan riset secara mandiri. Riset adalah sebuah aktivitas yang mengeksplorasi intelektualitas manusia untuk mencari jawaban atas persoalan yang dihadapi. Riset dilakukan menuruti prinsip dan kaidah ilmiah universal seperti berpikir secara runtut dan argumentatif, menjunjung tinggi obyektivitas dan kejujuran ilmiah, serta rendah hati dalam mengakui karya-karya orang lain yang berpengaruh atau terkait dengan risetnya. Kompetensi inilah yang dituntut dari seorang doktor, di manapun ia bekerja. Singkat kata, seorang doktor mungkin tidak bisa mempertahankan posisi leading edgenya dalam pengembangan ilmu pengetahuan karena berbagai sebab, tetapi ia tetap dituntut untuk bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran yang bernas, obyektif, dan orisinil dalam profesinya.

Devaluasi Gelar Doktor

Tidak bisa dipungkiri bahwa motivasi seseorang untuk meraih gelar doktor adalah untuk meningkatkan kondisi sosial ekonominya. Banyak yang menganggap gelar doktor sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan mencapai tujuan tersebut, bukan karena kompetensi atau kapabilitas yang ditawarkannya, tapi lebih karena persepsi terhadap nilai gelar tersebut.
Berbicara tentang persepsi terhadap nilai gelar, ada fenomena menarik tentang persepsi masyarakat terhadap gelar akademik, khususnya pada jenjang magister atau S2. Sampai pertengahan tahun 90an, gelar S2 masih dianggap bernilai tinggi karena belum terlalu banyak orang yang memegangnya. Kondisi berubah mulai sekitar menjelang tahun 2000 saat Indonesia diterjang krisis moneter. Banyak lulusan baru S1 dan mereka yang kehilangan pekerjaan berbondong-bondong mengikuti program S2 untuk meningkatkan daya tawar mereka. Akibatnya sejak itu produksi lulusan S2 menjadi melimpah, mengisi berbagai posisi pekerjaan. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mensyaratkan seorang dosen harus bergelar minimal S2 untuk bisa mengajar di program S1 semakin mendorong dosen untuk menempuh studi pascasarjananya.
Seiring dengan bertambahnya jumlah lulusan S2, nilai persepsional terhadap gelar S2 akan menurun. Gelar master bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bagi para pemegang gelar S2, kondisi ini mengakibatkan kompetisi yang semakin ketat di antara mereka. Mereka saling berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan, pengakuan (recognition), dan hak-hak khusus (privilege) yang melekat pada gelar tersebut. Gelar S2 bukanlah merupakan competitive advantage bagi pemegangnya, dan mereka harus mencari faktor-faktor lain untuk bisa memenangkan persaingan.
Kondisi yang serupa diramalkan akan terjadi pada lulusan S3 dalam waktu yang tidak terlalu lama. Seiring dengan naiknya popularitas program S3, jumlah mahasiswanyapun meningkat, dan dalam beberapa tahun kedepan, jumlah lulusan S3 juga akan bertambah. Mirip dengan fenomena yang terjadi dengan gelar S2, nilai persepsional terhadap gelar doktor akan menurun, dan gelar S3 bukanlah faktor yang menentukan dalam memenangkan kompetisi.
“Medan peperangan” bagi para doktor pada masa mendatang terletak pada seberapa jauh mereka bisa hadir dan berkontribusi di lingkungannya masing-masing. Di pergaulan akademik internasional misalnya, eksistensi seorang doktor ditentukan oleh publikasi internasionalnya atau keterlibatannya dalam berbagai kerjasama ilmiah internasional. Ada pepatah barat yang mengatakan: publish or perish. Ungkapan yang ditujukan kepada para ilmuwan ini mematok publikasi sebagai syarat eksistensi mereka.
Di lingkup lokal, kompetisi juga tidak kalah serunya. Banyak ceruk-ceruk  yang menyediakan kesempatan untuk berkontribusi dan berprestasi, tetapi banyak juga pemain yang masuk ke sana. Jurnal-jurnal dan seminar-seminar nasional, hibah-hibah riset nasional, tawaran-tawaran sebagai konsultan, sampai ke jabatan-jabatan di lingkungan pemerintahan adalah beberapa contoh battlefield bagi para doktor kita kelak.
Pertanyaannya kemudian adalah: jika gelar doktor sendiri sudah bukan lagi faktor dominan penentu kesuksesan, lalu bagaimana caranya untuk bisa survive dan berkembang?
Buku ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut secara spesifik, tetapi nampaknya ada satu trend menarik tentang requirements SDM pada masa yang akan datang. Daya saing seseorang akan lebih ditentukan oleh kualitas personal yang bersangkutan, bukan oleh atribut-atributnya. Banyak ahli SDM yang mencoba mengidentifikasi penentu kualitas personal, dan semuanya mengarah ke faktor-faktor seperti adaptabilitas, komitmen, semangat (passion), tidak mudah menyerah, dan fokus (Baker, 2006)(Scarborough, —)(Inglish, 2009).
Kriteria yang sama juga berlaku untuk para doktor. Tanpa kualitas personal seperti yang disebutkan di atas, mustahil untuk memenangkan persaingan. Jika hal ini terjadi, harapan yang telah lama dipupuk, serta usaha dan biaya yang telah dikeluarkan bisa menjadi sia-sia.

Kamis, 04 Juni 2015

38. Penipu, Pembual & Pengkhayal

Penipu, Pembual & Pengkhayal

Begitu banyak penipu dan pembual di dunia ini. Sampai-sampai orang-orang jujur (insya ALLAH saya termasuk di dalamnya) kesulitan membuktikan dirinya jujur.
Saya punya segudang pengalaman pribadi soal ini. Dikira penipu atau pembual itu sudah teramat sangat biasa. Apalagi oleh orang yang baru kenal. Mata yang memicing, bibir yang mencibir, cara bersalaman yang ragu, menerima kartu nama dengan sebelah tangan (untuk kemudian digeletakkan begitu saja) itu adalah gesture dari orang yang ragu pada kita. Mereka menganggap kita penipu atau pembual.
Lucunya, saya sama sekali tidak mendapati keraguan itu pada diri orang-orang hebat. Mentor saya, seorang mantan menteri, tidak pernah meragukan saya sejak awal perkenalan. Beberapa menteri yang saya pernah temui juga begitu. Demikian pula sejumlah orang hebat yang saya temui dari beragam profesi, mereka malah dengan santun menerima uluran tangan saya dan menyimpan kartu nama saya dengan baik. Akan tetapi, sebaliknya dengan diri orang-orang yang saya kemudian ketahui mereka ini “tidak aman” pada dirinya. Mereka memandang saya dengan meremehkan, merendahkan, menghina, atau minimal meragukan.
Memang, banyak orang yang setelah dewasa tahu, bahwa mudah sekali untuk “bercerita”. Jarang ada orang yang mendapatkan ‘dongeng’ dari orang lain mau repot-repot mengecek keabsahannya. Saat menghadiri reuni akbar sebuah kampus terkemuka di Bandung -menemani partner saya- , kami mendengar seorang yang duduk di bangku pinggir jalan (bukan peserta reuni, sepertinya pedagang kaki lima) sedang bercerita pada rekan-rekannya. Kira-kira begini katanya, “Saya mah semua kampus udah pernah saya masukin. Mulai dari kampus a…, b…, c….”  Kami saling berpandangan heran, apa ya kira-kira maksud orang ini? Ya, tentu saja ia sedang membual. Entah agar dikira teman-temannya ia pernah kuliah, atau minimal dianggap berwawasan luas karena sering jalan-jalan ke banyak tempat.
Contoh lain banyak ditemui di internet. Mereka-mereka yang mengklaim aneka hal terutama agar jualannya laku. Kisah sukses sekejap di berbagai bidang mudah ditemui. Mulai dari “kaya tanpa kerja” sampai “langsing tanpa usaha” ada. Tinggal pilih yang mana. Saya sendiri selalu mengecek dan mengecek ulang (check and re-check) klaim-klaim semacam itu. Ditambah lagi sekarang banyak pembajak akun, mengirim cerita keren yang menggiring kita untuk mengklik tautan (link) yang diberikan. Setelah itu, bukannya khasiat atau bukti dari cerita yang kita dapat, malah akun kita hilang.
Saya juga belajar, bahwasanya visi terlalu jauh ke depan juga sulit dipahami oleh mereka yang berpikiran sempit. Kalau Anda rajin membaca tulisan saya di sini, beberapa kali saya dianggap aneh justru oleh pegawai saya sendiri. Mereka menganggap saya mengkhayal seraya mencerca dan memaki saya, tapi tetap santai mengisi perutnya dengan uang gaji yang saya berikan. Minimal, di satu hal itu mereka berhutang banyak pada saya di akherat kelak.  Visi terlalu jauh ke depan, atau bahkan sekedar wacana ternyata tidak bisa masuk di otak mereka yang masih berada di level “pelaksana” (doers).
Jadi, kalau saya bilang bahwa saya berniat membuat sambel yang tidak perlu pakai ngulek, mereka akan bilang saya pengkhayal. Kalau saya bilang sanggup makan sambal 5 mangkuk tanpa kepedasan misalnya, mereka akan bilang saya pembual. Kalau saya bilang bisa menjual sambal dengan harga 1 juta per piring (seperti diajarkan Pak Tung Desem Waringin), apalagi, pasti saya serta-merta dituding penipu.
Tadinya, saya capek meyakinkan orang-orang semacam ini. Dan celakanya mereka-mereka ini terus-menerus datang kepada saya. Orangnya sih beda, tapi tipenya sama. Seakan-akan -ini istilah saya-, ke mana-mana saya harus menempelkan ijazah atau sertifikat kompetensi di jidat saya. Itu pun mereka masih bisa tidak mengacuhkan, karena memang mereka tak peduli apa pun selain dirinya.
Akhirnya saya tahu, masalah ada di mereka, bukan di saya. Saya ingat saja secara positif, justru orang-orang hebat yang sudah aman dan eksis malah menghargai saya begitu rupa. Justru para pecundanglah yang tidak mau menghargai kelebihan dan prestasi orang lain. So, seperti kata The Queen di lagunya We Are The Champions: “No Time for Loser!”

******  Thanks, mr. Bhayu... atas inspirasinya......

Rabu, 31 Desember 2014

37. Genoveva Claudia, Kawan Kita Juga di Program Doktor Ilmu Manajemen UPI YAI tahun 2012 angkatan 25.

Genoveva Claudia

Genoveva Claudia

Director of Quality Assurance at President University
Provinsi Jawa Barat, Indonesia
Manajemen Pendidikan
Saat Ini
  1. President University
Sebelumnya
  1. Institut Bisnis Indonesia
  2. PT Great River Industries
Pendidikan
  1. Sekolah Tinggi Manajemen Labora

Latar Belakang



Director of Quality Assurance

President University
 – Saat ini (3 tahun)


Vice of Rector 2

Institut Bisnis Indonesia
 –  (5 tahun)


Lecturer of Management Subject

Institut Bisnis Indonesia
 –  (5 tahun)


Manager of training

PT Great River Industries
 –  (3 tahun)

Pendidikan



Sekolah Tinggi Manajemen Labora

Master's Degree, Management, marketing


Universitas Kristen Satya Wacana

Bachelor's Degree, Educational Psychology


YAI

Management, marketing, Candidate of doctor

Minggu, 28 Desember 2014

36. Ariawan Gunadi, Raih Gelar Doktor Termuda UI

Ariawan Gunadi, Raih Gelar Doktor Termuda UI

Selasa, 16 Oktober 2012 | 19:21
Ariawan Gunadi (kiri) bersama mantan Ketua Yayasan Tarumanegara 2007-2012, Serian Wijatno (kanan). [Istimewa] Ariawan Gunadi (kiri) bersama mantan Ketua Yayasan Tarumanegara 2007-2012, Serian Wijatno (kanan). [Istimewa]
Siapa sangka, orang yang terlahir dari keluarga sederhana dan harus bekerja guna bersekolah sekaligus memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga, dapat meraih gelar doktor pada usia 27 tahun. Hal ini menjadi sejarah baru dunia pendidikan di Indonesia.  

Tidak pernah terlintas di benak Ariawan Gunadi bahwa dirinya suatu saat bakal menyandang gelar doktor bidang ilmu hukum dagang internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Ia juga didaulat sebagai doktor termuda dalam sejarah UI mengalahkan Firmanzah, yang menjadi doktor Fakultas Ekonomi UI dalam usia 29 tahun.  

Ariawan mengatakan sejak awal sudah bertekad untuk membiayai sendiri kuliah S1 tanpa dana dari orangtua. Ia pun mendapatkan beasiswa, bahkan sampai S2 dan menyelesaikan doktor di UI juga menggunakan uang sendiri.  

”Selepas SMA, saya sudah mulai mencari uang dengan mengajar bahasa Inggris. Dari situlah saya membiayai kuliah dan mencari beasiswa. Lewat komitmen, tekad dan kerja keras pada akhirnya saya dapat menyelesaikan jenjang S1, S2 dan S3 doktor Hukum di Universitas Indonesia (UI),” jelasnya di Jakarta.  

Diakui, sulung dari 3 bersaudara kelahiran Jakarta, 19 Maret 1985 memacu diri demi keluarga tercintanya. Namun yang memotivasi, mendukung dan mendorong untuk menyelesaikan hingga menjadi doktor adalah mantan Ketua Yayasan Tarumanegara 2007-2012, Serian Wijatno. Ia sejak awal concern akan kemajuan bidang akademik di Universitas Tarumanegara.  

”Ia memotivasi saya dalam penyelesaian disertasi di saat mengalami masa-masa sulit termasuk urus keluarga. Sosok Serian ingin selalu melakukan perubahan, haus akan kemajuan serta memiliki integritas yang tinggi. Dukungan yang diberikan keluarga dan almamater saya di FH Universitas Tarumanagara sangat luar biasa,” katanya.  

Ariawan saat ini merupakan dosen pada FH Universitas Tarumanagara. Ia juga dipercaya sebagai pengurus Yayasan Tarumanagara yang mengelola Universitas Tarumanagara dan Rumah Sakit Royal Taruma.   Profesi pengajar dipilih Ariawan karena ia ingin mengabdikan diri secara total di dunia pendidikan.

Baginya kalau menyalurkan ilmu ke mahasiswa dan mahasiswa lulus dengan nilai bagus, menjadi hal yang luar biasa untuknya karena ada kebanggaan tersendiri dan menjadi inspirasi bangga orang lain.  

Ari menegaskan dirinya akan mengembangkan kariernya di dalam negeri saja. Seseorang yang fokus di bidang hukum perdagangan internasional sangat minim.

Dari sini itulah ia ingin agar ke depan akan ada anak bangsa yang bisa mewakili Indonesia menjadi pelobi di luar negeri. Jika dirinya harus keluar negeri itu adalah jika ditugaskan atau dikirim oleh pemerintah.  

Terjajah


Ariawan telah menyelesaikan disertasinya di Universitas Indonesia yang berjudul Perjanjian Perdagangan Bebas Dalam Era Liberalisasi Perdagangan Studi Mengenai ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang Diikuti oleh Indonesia.

Dijelaskan, bahwa Indonesia terjajah secara ekonomi oleh negara maju.   Dalam disertasinya, Ariawan menekankan bahwa dalam era globalisasi dan tanpa batas dewasa ini, semakin banyak perjanjian internasional yang diikuti oleh negara, salah satunya perjanjian perdagangan bebas.

Yang menjadi masalah, terlalu banyak barang asing masuk ke pasar dalam negeri, tetapi pasar Indonesia sulit untuk menembus pasar luar negeri.  

Indonesia telah terikat dengan banyak perjanjian perdagangan bebas baik bilateral, regional dan multilateral. Namun Indonesia belum mendapat benefit, khususnya dalam lingkup ACFTA.

”Indonesia tidak punya grand design strategi perdagangan bebas. Saya kuatirkan, akan semakin banyak perjanjian perdagangan yang akan ditandatangani dengan negara lain Baiknya pemerintah mengkaji apa yang menjadi implikasi dan menyiapkan langkah-langkah hukum. Konstruksi hukum juga perlu disiapkan sematang mungkin, sehingga kalau perlu ditolak, ya tolak saja,” tegasnya.   

Disarankan, karena sudah telanjur menyepakati perjanjian perdagangan bebas, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan aturan antidumping, safeguard, dan SNI. Peningkatan aturan ini sebagai salah satu langkah untuk melindungi industri dalam negeri. [Hendro Situmorang]

35. 5 (LIMA) TIPE DOSEN PEMBIMBING TUGAS AKHIR




5 TIPE DOSEN PEMBIMBING 

TUGAS AKHIR


Oleh : I.t. Kriyonadhy Pengajar yang terus belajar

Penyelesaian tugas akhir kuliah, baik skripsi, tesis sampai disertasi sering kali menjadi masa-masa paling mendebarkan, bahkan bagi mahasiswa yang dikenal hebat sekalipun. Setelah lepas dari kesulitan dalam memilih tema penelitian yang sesuai dan menyusun disain penelitian yang baik, persoalan yang biasanya dirasakan paling membebani mahasiswa adalah menghadapi dosen pembimbingnya.
Sebagian mahasiswa mungkin bernasib baik karena bertemu dosen pembimbing yang ramah,  empatik dan berpretensi kuat membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhirnya. Meski demikian tidak sedikit yang harus menderita tekanan batin karena bernasib “sial” harus berhadapan dengan dosen “sulit”.
Mahasiswa perlu mengenali tipe-tipe dosen pembimbing agar mereka dapat menyelesaikan tugas akhirnya tanpa terlalu banyak menghabiskan energi batin. Dalam banyak kasus, menghadapi dosen pembimbing tugas akhir kuliah kadang jauh lebih berat dan melelahkan dibanding kegiatan penelitian dan penulisan karya ilmiah itu sendiri.
Dosen “mudah” dan “sulit tidak ditentukan oleh usia atapun pengalaman pendidikan. Sebagian dosen tua tidak bersahabat dalam membimbing mahasiswa, tetapi tidak sedikit tidak punya empati pada mahasiswanya. Dosen muda banyak yang apresiatif dalam membimbing, tetapi juga sedikit yang tidak berperasaan. Karena itu, adanya beragam tipe dosen tersebut anggap saja sebagai suratan takdir yang harus diterima dan disikapi dengan bijaksana. Di antara tipe-tipe dosen pembimbing di negeri adalah sebagai berikut.
1.   Tipe Kooperatif
Karakteristik dosen tipe ini biasanya “merakyat”, egaliter, bersahabat. Mereka memandang mahasiswa dengan respek, sebagai manusia yang mempunyai potensi untuk berkembang, sebagai harapan masa depan.  Itu sebabnya, mereka bersikap terbuka dalam melayani mahasiswa. Mereka berkomunikasi dengan baik sehingga mahasiswa bimbingannya memahami kelemahan dan hal-hal yang harus diperbaiki dalam menulis karya ilmiah.
Selain mudah ditemui, dosen tipe ini bersikap motivatif. Mereka berusaha mendorong mahasiswa untuk berkembang penuh percaya diri. Mahasiswa akan banyak belajar dari koreksi demi koreksi yang detail dari dosen semacam ini. Mahasiswa juga dapat belajar hal-hal baru atau memperdalam materi yang pernah dipelajari selama di bangku kuliah dan menerapkannya melalui kegiatan penelitian ilmiah.
Mahasiswa paling beruntung adalah yang bertemu dosen pembimbing semacam ini. Memiliki dosen bertipe baik seperti ini sebaiknya mahasiswa manfaatkan setiap sesi konsultasi secara optimal sehingga dapat belajar banyak dari dosen secara langsung. Dengan begitu mahasiswa akan lebih mudah dalam menghadapi ujian tugas akhir.
2.  Tipe Santai
Dosen tipe ini biasanya relatif mudah ditemui, tetapi mereka kurang serius dalam memberikan bimbingan. Dosen tipe santai kurang jeli dalam memberikan koreksi, saran dan masukan, sehingga proses bimbingan terasa berjalaan sangat mudah.
Dosen tipe santai dapat berasal dari dosen tipe kooperatif yang karena kesibukannya, tidak mempunyai cukup waktu untuk membaca dan memberikan koreksi secara menyeluruh. Meski demikian, dosen semacam ini pada dasarnya memang malas, sehingga kurang concern dalam membimbing mahasiswanya. Ada pula dosen yang bersikap semacam ini karena terlalu percaya pada mahasiswanya.
Sekalipun proses bimbingan mudah, dibimbing oleh dosen semacam ini sering membuat mahasiswa kesulitan dalam sesi ujian. Minimnya koreksi menjadikan tingkat kesalahan dalam penelitian dan penulisan laporan relatif tinggi. Padahal, mahasiswa harus bertanggungjawab penuh terhadap karya ilmiahnya, sekalipun ditulis di bawah bimbingan dosen.
3.  Tipe Sibuk
Sebagian dosen memang lebih akrab dengan berbagai proyek yang membuatnya jarang berada di kampus. Kalaupun ada di kampus, mereka tengah sibuk dengan berbagai urusannya sendiri, sehingga tak mudah meluangkan waktu untuk melayani mahasiswa. Bahkan janji dengan mahasiswa sering kali dilupakan begitu saja, tanpa rasa bersalah.
Menghadapi dosen tipe ini kadang membuat jengkel perasaan mahasiswa. Mahasiswa harus bolak-balik mencari jejak keberadaannya. Meski demikian, dosen tipe ini biasanya tidak terlalu detail dalam memberikan bimbingan. Pola bimbingannya kurang lebih sebagaimana dosen santai, yang kalaupun ada koreksi, biasanya bersifat umum dan sambil lalu. Dosen tipe ini biasanya tak terlalu rewel dalam membimbing, asalkan karya ilmiah mahasiswa tak terlalu berantakan.
4.  Tipe Elitis
Mahasiswa yang kurang beruntung adalah yang bertemu dengan dosen pembimbing semacam ini. Dosen tipe ini biasanya memberikan banyak batasan dalam membimbing, misalnya harus ada janji terlebih dahulu, sekalipun dosen tak harus menepati; tidak boleh di rumah, dan kalau ke rumah hanya ditemui pembantu.
Sebagian dosen tipe elitis kadang hanya berpura-pura sibuk saja. Untuk menjaga image sebagai akademisi, tak jarang ada dosen yang bersikap seolah banyak kesibukan, sehingga banyak membatasi interaksinya dengan mahasiswa. Mereka membuat batasan-batasan yang tak masuk akal, seperti harus jam sekian, tidak boleh ke rumah, hanya menyediakan hari-hari tertentu meski sebenarnya dia ada di kampus hampir setiap hari. Bila ada mahasiswa yang datang ke rumah, pembantu yang disuruh menemui dengan alasan sedang istirahat atau sedang tidak menerima tamu.
Sikap dan bahasa tubuh dosen tipe ini biasanya tidak mengenakkan bagi mahasiswa. Bertemu dosen semacam ini menjadi saat-saat paling menegangkan. Mahasiswa merasa penuh beban, dan diliputi rasa kuatir akan dicaci-maki, atau dimarahi. Dosen tipe elitis biasanya bersikap sok serius, jutek, dan memasang wajah masam saat bertemu mahasiswa.
Sekalipun demikian, tak semua dosen elitis termasuk dosen sulit. Sebagian dari mereka cukup proporsional dalam memberikan bimbingan. Bilamana karya ilmiah mahasiswa sudah sesuai dengan norma-norma ilmiah, mereka tak sulit memberikan persetujuan ujian. Hanya saja, beban mental saat berhadapan dengannya membuat proses penyelesaian tugas akhir terasa berat bagi mahasiswa.
Mahasiswa perlu berhati-hati dalam bersikap di hadapan dosen tipe ini, karena mereka mudah tersinggung, dan mempersulit proses bimbingan. Mahasiswa tidak perlu berharap dapat berdiskusi secara nyaman, sebab bersikap sopan dan mengikuti saja setiap saran dosen menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk segera “merdeka” dari penjajahan mental dosen semacam ini.
5.  Tipe Sulit
Pada tahun 1970 sampai 1990-an dosen tipe ini sering disebut dosen killer. Istilah tersebut terdengar menyeramkan, dan faktanya memang demikian. Ironisnya, di milenium ini masih banyak dosen tipe ini. Mahasiswa benar-benar bernasib buruk saat harus berhadapan dengan dosen ribet yang satu ini.
Dosen tipe sulit biasanya bersikap elitis, yang susah ditemui. Kesan sinis dan tertutup membuatnya terasa menyeramkan sekalipun sedang tersenyum.  Selain raut wajah yang serius, bahasa dosen tipe sulit sangat tidak mengenakkan dalam memberikan koreksi dan masukan. Kalimat-kalimat kasar dan menyakitkan biasa keluar dari mulut dosen tipe ini yang membuat mahasiswa jatuh secara mental.
Pada sebagian kasus, mahasiswa sering tak bisa memahami maksud dosen. Tak jarang mahasiswa harus bolak-balik karena salah memahami keinginan dosen, yang membuat suasana bimbingan terasa kian menegangkan. Dosen semacam ini cenderung membuat proses bimbingan sebagai sesuatu yang sulit, karena mereka mempunyai prinsip “kalau bisa dibuat sulit kenapa di buat mudah?”
Sikap dan ucapan dosen tipe ini kadang memang tidak jelas, yang mengharuskan mahasiswa melakukan tugas ganda. Tugas pertama adalah melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah, dan tugas yang lebih berat adalah memahami dosennya.
Mahasiswa dapat mempelajari kemauan dosen dari mahasiswa bimbingannya terdahulu, atau bertanya pada mereka yang mengenal dosen tipe sulit ini. Di Jogja misalnya, ada beberapa dosen yang akan memberikan persetujuan ujian karya ilmiah mahasiswa selama buku yang dia tulis tidak dijadikan referensi. Ada pula yang tidak segera menyelesaikan koreksi tanpa jelas alasannya, dan baru setelah bersikap kooperatif bila diundang ceramah oleh mahasiswanya. Lucu, aneh, menjengkelkan, tetapi banyak dijumpai di kampus-kampus ternama negeri ini.
Hanya ada dua saran untuk menyikapi tipe dosen pembimbing yang terakhir ini. Pertama, segeralah minta ganti dosen pembimbing yang lain kalau bisa. Bila tidak, maka bersabarlah sesabar-sabarnya, dan jangan melakukan tindakan bodoh. Berdo’alah sebanyak-banyaknya agar perasaan tenang dan Tuhan segera membukakan pintu hatinya.

Kamis, 18 Desember 2014

34. TERIMA KASIH PIMPINAN DAN DOSEN UPI Y.A.I., TERIMA KASIH KARYAWAN UPI Y.A.I., DAN TERIMA KASIH TEMAN-TEMAN SEMUA ANGKATAN 25.....

TERIMA KASIH.......,  TERIMA KASIH......., MATUUUR NUWUUUUN........ 

Terimakasih kami ucapkan kepada :

Pertama, Bapak Rektor Universitas Persada Indonesia YAI yang telah memberikan kesempatan kepada kami semua mahasiswa S3 Doktor Ilmu Manajemen Tahun 2012 angkatan 25, untuk menuntut ilmu dan menyelesaikan program Doktor Ilmu Manajemen, sebagai wujud dari kepedulian lembaga ini dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kedua, Ketua Program Pasca Sarjana FE UPI Y.A.I., Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen FE UPI Y.A.I dan seluruh Pengurus serta dosen pengajar Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Jakarta, yang telah banyak membimbing dan memberikan arahan serta motivasi kepada kami semua angkatan 25, sejak mengikuti kuliah perdana sampai dengan proses saat ini (Sedang dalam bimbingan disertasi / masih dalam proses menuju Ujian Kualifikasi (Proposal), dan ada juga yang sudah menuju Ujian Seminar Hasil, serta ada juga yang sedang menuju Ujian Promosi Tertutup dan Terbuka). 
Ketiga, karyawan-karyawati tata usaha Program Doktor Ilmu Manajemen UPI YAI ;

1. Ibu Dra. R. Asty Junidiawati,
2. Bapak Wagiman, Amd., 
3. Ibu Evi Syafiyah, Amd., 
4. Mbak Aminatul Islamiyah, 
5. Mas Rian Arianda, 
6. Mas Haris 
dan teman-teman mahasiswa S3 Tahun 2012 Angkatan 25 Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta.

"SAMPAI JUMPA DI RUANG SIDANG UJIAN PROMOSI TERBUKA  PROGRAM DOKTOR ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UPI Y.A.I  DI AUDITORIUM HJ. DARLINA JULIUS GEDUNG PSIKOLOGI UPI Y.A.I & WISUDA DI  HALL JAKARTA CONVENTION CENTRE, SENAYAN, JAKARTA".

INSYA ALLOH........
DOA KITA DIKABULKAN....
DAN DIIJABAHI PENUH RAHMAT DAN BAROKAH.....